SESOSOK INVERTOR AKHIRAT

        Seorang investor memiliki tujuan untuk mengembangkan aset dan memperoleh keuntungan jangka panjang. Investor terbesar dalam hidup manusia adalah kedua orang tua. Ayah dan Ibu telah melalui proses panjang untuk menghasilkan sebuah keuntungan. Oleh karena itu, penanaman norma agama akan lebih baik jika dilakukan sebelum pernikahan. 

1.  Langkah pertama untuk menjadi investor akhirat adalah berdoa agar mendapat jodoh terbaik. Telah disebutkan dalam surah Al-Furqan ayat 74, Allah SWT berfirman:

[وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا  [الفرقان:74 9

Artinya: “Dan orang-orang yang berkata, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan-pasangan dan keturunan kami sebagai penyejuk hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”.

        Prof. Dr.H. Muhammad Quraish Shihab menjelaskan, bahwa terdapat makna yang tersirat. Yakni tentang seseorang yang selalu memperhatikan dan berusaha mendidik keluarganya.   

         Jika dipahami lebih dalam, ayat tersebut telah memberikan gambaran kepada setiap manusia bahwa seorang investor wajib mengetahui hal ini sebelum memberikan modalnya. 

2. Mengenalkan tauhid terhadap calon Ibu. Ayah bertugas mengingatkan sang istri, agar anaknya diajarkan ilmu tauhid sejak dini. 

        Kisah anak juara 2 Hafidz Indonesia (sebuah program reality show yang tayang di bulan Ramadhan) tahun 2020, bernama Azka. Sedari kecil, dia dibimbing mengenal tauhid oleh Ayahnya. Siapa Allah, Rasulullah Muhammad, apa tugasnya di dunia dan lain sebagainya. Sekarang Ayahnya bangga, karena tiap kali Adzan berkumandang, Azka bergegas menuju Masjid untuk melaksanakan sholat jamaah. Alasannya hanya sederhana yakni “Allah menugaskan kita di dunia untuk beribadah”. Pernyataan dari Azka

        Sosok suami lihai memang sulit dicari, tapi mudah diciptakan. Oleh karena itu, komitmen yang sengaja dibuat, butuh dicerna, diasah dan dikembangkan. 

3. Menanamkan cinta terhadap Alqur’an

        “Saya terkejut, ketika melihat anak-anak Hafidz Indonesia. Rata-rata mereka dilahirkan dari orang tua yang buta huruf, petani, bahkan orang tua yang tidak pernah belajar Alqur’an. Tapi begitu besar perjuangan mereka, sampai ada seorang Ibu berkata “sudah hentikan buta huruf. Di masa kami sudah cukup banyak orang buta huruf, kami tidak mau di generasi anak kami masih ada yang buta huruf”. Kalau Anda belum bisa menjadi penghafal Alqur’an, maka tolong jangan gagalkan anak Anda menjadi penghafal Alqur’an. Dan jika anak Anda juga tidak berhasil, jangan gagalkan harta Anda untuk mendukung dan membantu program Alqur’an dimanapun. Agar mereka menjadi saksi dihadapan Allah, bahwa Anda mencintai Alqur’an”. 

        Fatwa Syekh Ali Jaber di atas, memberi renungan dan pemahaman tentang bibit penanaman karakter yang baik. Sebab, kebahagiaan dan ketenangan jiwa akan di dapat dalam Alqur’an. Di surah Shad ayat 29, Allah SWT berfirman:

[كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ  [ص: 29

Artinya: “Ini kitab yang kami turunkan kepadamu, dengan penuh berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran dari orang-orang yang mempunyai pikiran”.

        Imam al-Thabarani menjelaskan dalam kitab tafsirnya, bahwa Alqur’an diturunkan untuk direnungi makna dan dipahami isinnya serta menjadi hujjah dan landasan dalam syari’at agama Islam. 

Jadi, investor terhebat tidak lain adalah orang tua yang dapat membina dan mencetak anak sholeh sholehah dengan akhlak Alqur’an. Hingga, meraih kemanfaatan dunia dan akhirat. Semoga kita bisa menerapkan langkah-langkah tersebut. Wallahu a’lam. Aammin  


Catatan, Nafisah ☺


Komentar