WEDDING LIES

      Trand pernikahan yang kandas ditengah jalan sudah menjadi problem bagi pasangan suami istri saat ini. Banyak orang mengatakan itu hanya tentang waktu dan kedewasaan. Namun tidak bagi Bunga dan suaminya. Sembilan bulan bertunangan dengan bekal usia yang matang dapat memberikan kekuatan untuk mereka menuju pelaminan. Pengikat janji suci yang sederhana telah usai terlaksana, meskipun dengan berbagai yang ada. Ucapan rasa syukur juga tertumpahkan dalam resepsi pernikahan. Semuanya begitu indah dan bermakna. 

       Tujuh bulan lamanya dia menjadi seorang ratu yang merangkai cinta bersama sang raja, serta belajar mengenal arti pacaran dalam genggaman pernikahan. Apalagi status perutnya sedang buncit menginjak lima bulan. Kebahagiaan itu seolah-olah ingin dia bagikan kepada dunia, layaknya pemimpin upacara dengan toa nya. Namun, ikatan demi ikatan perlahan mulai terlepas setelah pesan masuk dari salah satu media sosialnya

“Assalamualaikum, adik cantik nan sholihah. Salam kenal ya, aku ingin menjalin hubungan baik denganmu. Jangan marah!! karena Nugroho (suami kita) sudah banyak meluangkan waktunya bersamamu”. 

         Bagaikan tersambar petir dan badai angin yang kencang, dada pun mulai sesak dengan luapan emosi serta kesedihan. Sekuntum mawar yang selalu mekar dan membawa kesejukan di pagi hari, kini telah layu hingga tak elok lagi untuk dipandang. Seperti itu pula ratapan hati Bunga di tengah goncangan kehidupan yang dia alami. 

      Bertepatan dengan malam minggu kemaren, sang suami angkat bicara dan memberi penjelasan kepada dirinya. 

“Johana adalah sosok gadis yang aku cintai, kami menjalin hubungan dua tahun lamanya. Perjalanan cinta kami berakhir karena dia telah dijodohkan oleh kedua orang uanya. Ternyata, rumah tangga mereka tidak bisa diselamatkan. Dia berpisah saat mengandung anak pertamanya. Semenjak perpisahan tersebut, dia kembali dijodohkan dengan dua lelaki secara bergantian. Dan semuanya berakhir  menyedihkan. Maka aku putuskan untuk menikahinya, agar kutukan itu tidak menjadi bayangan dalam hidupnya. Karena latar belakang yang dia miliki, orang tuaku tidak merestui. Tapi, aku bersikeras untuk tetap menikahinya. Pihak keluarga Johana pun memintaku menikah sirri serta pembebasan dari nafkah lahir dan batin, dengan syarat aku tidak menceraikan putrinya. Oleh karena itu, kami langsungkan akad pernikahan tanpa restu kedua orang tua yang telah membesarkanku. Jadi Bunga sayang, aku menikahimu berdasarkan pengabdianku kepada guru dan kedua orang tuaku. Aku tak ingin orang tuaku sakit akibat penolakan dari anaknya. Jika kamu meminta solusi kepadaku, aku hanya ingin kau menerima Johana seperti dia yang lapang dada atas kehadiranmu”. 

   Bunga menundukkan kepala, berdenyut mengatur isak tangis dengan desis pelan. Berharap rumah sebelah yang dihuni oleh kedua orang tua kandungnya tidak mendengar permasalahan ini. Dia kembali menghela napas panjang, mencoba menetralisirkan keadaan, keterpurukan dan kekecewaan. Mata mulai lembab memerah, tapi jari jemari secepat kilat menghapus derairan air mata. 

   Sang suami berusaha merangkulnya, memberi kecupan pada dahi serta perlahan mengelus-elus rambutnya. Seperti suami pada umumnya, Nugroho memang dikenal sebagai pria yang romantis terhadap istrinya. Namun, bingkai itu tak lagi menarik bagi Bunga. Dia alihkan pandangan kepada sang suami dan berucap dengan lirih “Ceraikan Johana!!”. Kata spontan yang keluar dari mulutnya merupakan ungkapan kehancuran dari denyut nadinya, akibat mengetahui kebohongan yang selama ini di sembunyikan.  

        Nugroho terkejut dengan perkataan Bunga. Pikirannya semakin campur aduk. Di satu sisi, dia tidak ingin menceraikan Johana, karena cinta itu sudah mendarah daging di dalam lubuk hatinya. Di sisi yang lain, Bunga sedang mengandung buah hatinya. Menyatukan dua hal yang rumit memang butuh waktu, maka Nugroho melempar jawab kepada Bunga dengan berkata, “Baik, aku akan pikirkan kembali”. 

      What?😱 Keputusan seperti apa ini? Apakah sang suami memang tidak pernah menaruh hati dengannya?  Apakah kehadiran sang bayi tidak lagi berarti baginya? Sejuta pertanyaan akan selalu muncul dari dirinya. Namun, Bunga adalah istri yang sabar. Dia pasti mampu menunggu kabar baik dari suaminya.

        Keadaan masih sama, dua minggu lamanya Bunga mendesak suaminya untuk segera menceraikan Johana. Perkataan halus juga sering terlontar, agar sang suami memberi ketegasan terhadap dirinya sendiri. Uluran tangan pun telah Bunga berikan untuk berjanji memulai semuanya dari nol dan membuang jauh-jauh masa lalu yang pernah ada. Hingga pernah suatu saat, dirinya memblokir akun media sosial Johana karena suaminya sering berpura-pura tidak menghubungi Johana, padahal beberapa menit yang lalu tercatat bahwa mereka usai berkomunikasi. 

    Semenjak sabotase yang Bunga lakukan. Semua akun media sosial Nugroho telah terprivasi. Dia terkesan menghindar dari tanggung jawabnya. Maka dari itu, Bunga rasa semuanya sudah cukup. Cukup telah membungkam segala panca indranya serta bersikap tegar di hadapan suaminya. Padahal hatinya remuk, penuh dengan bongkahan batu di dalamnya. Dan semakin dia sadari bahwa permasalahan dalam rumah tangganya tak akan berujung, jika tetap stagnan di posisi ini.

        Sepuluh hari berikutnya, Bunga mengambil langkah untuk memberanikan diri mengadu kepada ayah mertuanya. Berharap agar sang ayah bersikap tegas serta memberi pengertian terhadap Nugroho. Syukurlah sang ayah merespon dengan baik. Diskusi singkat dari pesan WhatsApp yang dikirim sang ayah sedikit mendinginkan pikiran Bunga. Wajah bersinar mulai terpancar dari lesung pipi Bunga. Ibu mertuanya juga memberi pesan agar Bunga bersabar sembari memanjatkan doa untuk sang suami. 

         Usai curahan yang terjadi, ponsel Nugroho bordering. Nama ayahnya tertera dari panggilan tersebut. Setelah bercakap-cakap cukup lama dengan sang ayah, Nugroho meminta idzin untuk pulang ke rumah kelahirannya. Dan melarang Bunga untuk menemaninya, karena keadaan sang istri yang sedang mengandung. Pundi-pundi kekhawatiran itu memang sering kali terlihat dari sepasang mata bening Nugroho. Kasih sayang pun tak diragukan. Namun, rasa cinta yang Nugroho miliki tidak sepenuhnya untuk Bunga dan calon anaknya. Hal inilah yang ada dalam relung pikiran Bunga saat ini. Dan untuk kesekian kalinya Bunga harus mengalah demi masa depan anaknya. 

        Nugroho telah berlalu dari hadapan Bunga dengan mengenakan jaket kesayangannya. Dia memberi nasehat kepada istrinya untuk berhati-hati dan meminta bantuan jika perutnya mengalami kontraksi. Karena Nugroho tidak akan pulang dengan waktu dekat. 

    Bunga menganggukkan kepala dengan mengiyakan pesan dari sang suami. Harapan tetaplah menjadi harapan, ratapan hanyalah ratapan. Tapi pertolongan Allah tidak akan pernah diragukan. Bunga akan terus mengadukan kepada sang Maha Pemberi agar suaminya bisa mengambil keputusan dan mengakhiri kebohongannya di depan kedua orang tua yang telah merawatnya.    

      Perjalanan kelabu mengajarkan orang untuk berhati-hati. Bunga terdiam menatap foto pernikahannya dengan penuh makna. Tidak ada tangisan, hanya ada kekecewaan tentang seluruh kebohongan pernikahannya. Saatnya Bunga kembali kepada kenyataan untuk menjadi kuat. Entah resiko apa yang akan terjadi? Dia harus tegar sebagai pribadi yang sejati.  

Sekaian, 

Catatan, Nafisah ☺

Komentar